Selamat datang di situs kami, Lerak Asli Indonesia Ronsari NL
Latest News

SATU POHON LERAK BISA MENGHIDUPI SATU KELUARGA


SATU POHON LERAK BISA MENGHIDUPI SATU KELUARGA


SATU POHON LERAK BISA MENGHIDUPI SATU KELUARGA  !!  Itu kata simbah-simbah pada masa lalu. Bagaimana dengan sekarang? Eko Yuningsih dan sang suami, Ludy Suharsiaka, mencoba membuktikan kebenaran kata simbah. Ia lalu mulai membuat SABUN CUCI KHUSUS berbahan buah lerak untuk kain-kain tradisional seperti BATIK, LURIK, TENUN dan SASIRANGAN. 

Buah lerak, bukan hal asing bagi Ningsih, sapaan akrab Eko Yuningsih. Sejak jaman dahulu buah lerak sudah dimanfaatkan sebagai SABUN DETERJEN ALAMI, terutama untuk mencuci kain batik. Buah lerak mengandung saponin yang menghasilkan busa. Ini yang digunakan sebagai bahan pencuci.
Tak hanya itu, sari lerak juga bisa digunakan untuk mencuci pakaian biasa. Ia bahkan diklaim bisa membuat pakaian lebih awet karena tidak mengandung bahan-bahan kimia. Demikian pula batang pohon lerak disebut mempunya kualitas sama dengan kayu jati. Keduanya sama-sama memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Tapi Ningsih dan Ludy tak hanya berkutat membuat sabun cuci pakaian, berbahan baku lerak. Sentuhan tangan dingin keduanya ternyata mampu 'menyulap' buah lerak menjadi sabun cuci piring, pupuk, obat pembasmi serangga, serta obat kulit.
Usaha Ningsih dan sang suami sebenarnya berawal dari sang bulik, seorang pembuat sari lerak berskala kecil-kecilan di Ungaran, Jawa Tengah.
"Awalnya produk sari lerak buatan bulik hanya saya jadikan oleh-oleh buat teman-teman. Lama-lama saya jual ke teman-teman juga. Akhirnya semakin banyak yang pesan, Bulik lalu bilang kenapa saya tidak produksi sendiri ? apalagi pada tahun 2007 itu, ketika saya mau ikut pameran dan butuh sekitar 50 botol, bulik ternyata nggak bisa membuatkan. Sejak itu, saya buat sari lerak sendiri",ujar Ningsih saat ditemui di kediamannya sekaligus bengkel pembuatan Sari Lerak, Senin (11/10).
Sebenarnya uji coba pembuatan sari lerak sudah dilakukan Ningsih sejak tahun 2003, yaitu ketika ia belajar dari sang bulik tentang proses pembuatan sari lerak. Namun usaha tersebut baru dijalankannya dengan serius sejak tahun 2007. Ketika ia kebanjiran pesanan dari teman-temannya. "ditambah lagi, waktu ikut pameran Sekaten tahun 2008, sari leraknya ternyata laris. Pesanan semakin banyak. Akhirnya saya putuskan untuk serius membuat sari lerak. Apalagi sekarang batik sudah banyak digunakan masyarakat dari segala usia", imbuhnya.

Uji coba terus dilakukan Ningsih sembari membandingkan sari lerak produknya dengan sari lerak yang beredar di pasaran. Dari uji coba tersebut ia bisa mengetahui, ada beberapa produk sari lerak yang beredar di pasaran, mengandung campuran bahan kimia !! Ningsih mengakui, proses pembuatan sari lerak sebenarnya gampang-gampang susah. Proses untuk mendapatkan sari lerak murni dan tidak mengandung tepung dibutuhkan ketelatenan. Ditambah lagi buah lerak tidak mudah didapat. Musim buah lerak adalah sekitar bulan juli.
Kalau sudah tidak musim, bisa susah dapat leraknya. Harganya bisa dua kali lipat bahkan lebih. Maka, untuk mengantisipasinya, saat musim lerak harus berani nyetok. "Kalau nggak bisa dapat harga mahal", paparnya.
Belum lagi jumlah sari lerak yang dihasilkan juga tidak menentu. "tergantung kualitas buah leraknya. Karakter tiap buah juga berbeda-beda. Jadi, hasilnya tidak bisa diprediksi", imbuh Ludy sembari mempraktikkan cara memeras lerak.
Proses membuat sari lerak di awali dengan memisahkan buah lerak dari kulitnya. Buah tersebut lalu dipotong-potong dan direndam dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, yakni sampai menghasilkan sari lerak yang disebut dengan  dengan getah lerak. Sari lerak ini diendapkan dan dicampur dengan essensial oil aroma melati atau cendana. Penambahan aroma melati dan cendana kata Ningsih, merupakan inovasi dari pruduk sari lerak yang ada di dpasaran. Ini, sekaligus menjadi keunggulan dari sari lerak produk Ningsih dan Ludy.
"Kalau tidak ditambah essensial, baunya nggak enak. Anak-anak muda sekarang, mana mau kalau nggak wangi? Maka saya tambahkan essensial oil aroma melati dan cendana. Pilihan aroma ini juga dimaksudkan agar tidak meninggalkan aroma khas Jawa", ujar Ningsih.
Tahap berikutnya adalah pengemasan. Diakui Ludy, sebelum memasukkan ke dalam botol, selalu dilakukan uji coba terhadap produk sari lerak yang dihasilkan. Hal in ini untuk menjaga kualitas sari lerak miliknya. "Selalu saya lakukan uji coba. Saya selalu menyediakan kain batik sebagai bahan percobaan. Selalu saya hindari jangan sampai sari leraknya mengandung tepung yang terdapat di kulitnya. Karena tepung itu bisa merusak kain",terang Ludy.
Setiap satu kali produksi, Ningsih dan Ludy hanya mampu menghasilkan sekitar 300 botol. Karena keterbatasan waktu pula, produksi sari lerak hanya dilakukan pada sabtu dan minggu. Saat pertama memproduksi sari lerak, mereka hanya mampu menghabiskan tiga kilogram buah lerak saja. Kini, sekali produksi, mereka bisa menghabiskan sekitar 37 kilogram buah lerak.
Buah lerak tersebut didatangkan dari Wonosobo, Ungaran, Klaten dan Temanggung. "Saya belum menemukan yang membudidayakan pohon lerak di Yogya. Lerak Sumatera sebenarnya lebih bagus tapi harganya bisa Rp 50 ribu untuk satu kilogramnya. Sedangkan lerak jawa hanya Rp 15 ribu per kilogram, kalau sedang musim. Kalau tidak musim, harganya bisa Rp 30 ribu per kilogram. Karena itu, saya berencana menanam sendiri pohon lerak, walaupun berbuahnya setelah usia 15 tahun",kata Ningsih.

Sari lerak miliknya dipasarkan ke hampir seluruh toko batik ternama di Yogya. Sari lerak ini juga sudah dipasarkan ke Bangka-Belitung, Kalimatan, Sumba, Makassar, Papua, Jakarta, Madura, Surabaya, Bogor dan Bandung. Omzet penjualan sari lerak diakui Ningsih, lebih dari cukup. Dari sari lerak ini, ia bisa menggaji dua orang karyawan dengan gaji di atas UMR Provinsi DIY.

(dicuplik dari : Harian Minggu Pagi, minggu III Oktober 2010)


Updated 15 Feb 2012 09:06
Latest News : Lerak dan Sirih, Pilihan Alami Pengganti Sabun Cuci Tangan